BIKIN PERPUS SAJA KOK REPOT?!!
(www.KUTUBUKU.info untuk gerakan literasi Indonesia) Mencerdaskan anak bangsa banyak caranya. Cara yang paling populer tentu melalui pendidikan di sekolah. Seperti kita tahu, mendirikan sekolah membutuhkan biaya besar, persiapan, dan prosedur yang rumit. Tidak sembarang orang bisa melakukannya. Namun, itu bukan satu-satunya cara untuk mengasah wawasan anak bangsa. Selalu ada cara lain. Kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Ah, jauh-jauh ke Roma. Banyak jalan menuju Jakarta. Boleh, kan?
Cara paling populer untuk mengasah wawasan adalah dengan membaca. Yah, membaca. Apa saja. Yang penting membaca. Tapi, dari mana bukunya mengingat harga buku semakin mahal.
Di sinilah peran penting perpustakaan komunitas atau perpustakaan swadaya masyarakat yaitu perpustakaan atau taman bacaan yang didirikan oleh, dari, dan untuk masyarakat.
APA
Perpustakaan komunitas adalah tempat peminjaman buku, baik dengan biaya maupun tanpa biaya, dengan mungusung misi sosial khusus di bidang peningkatan minat baca masyarakat. Menurut kaca pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, Perpustakaan Komunitas dikenal dengan istilah Taman Bacaan dan berada dalam pembinaan Pendidikan Luar Sekolah.
MENGAPA
Karena mendirikan perpustakaan komunitas atau taman bacaan lebih mudah daripada mendirikan sekolah. Cukup menyediakan bahan bacaan yang menarik. Lakukan sosialisasi dan persuasi ke masyarakat. Yakinlah, mereka akan segera membaca. Tidak perlu ada ijin pendirian. Juga prosedur birokrasi yang menjemukan. Perpustakaan komunitas kapanpun bisa dibangun asal ada motivasi yang kuat dan tulus.
DIMANA
Di manapun kita bisa mendirikan perpustakaan komunitas. Di garasi, teras, balai RT/RW, atau bekas gudang. Jika tidak ada tempat khusus, gelar saja tikar. Buatlah perpustakaan lesehan.
SIAPA
Tidak ada batasan siapa yang boleh mendirikan perpustakaan komunitas. Siapapun boleh mendirikannya mulai dari individu, lembaga sosial, atau perusahaan komersil sebagai misi sosial. Yang terpenting bukan siapa, tetapi mau apa?
BAGAIMANA
Mulailah di lingkungan terdekatmu. Kumpulkan koleksi bacaanmu, berapapun jumlahnya. Pilihlah tempat untuk menjadi pusat kegiatan perpustakaan komunitas. Tempat itu bisa berupa masjid/musholla, balai desa, teras rumah, atau sekedar lesehan. Setelah buku terkumpul, lakukan sosialisasi ke masyarakat sekitar agar kehadiran perpustakaan komunitas ini diketahui khalayak luas. Sebagai langkah awal, buku dalam jumlah puluhan sudah cukup.
Agar tidak membosankan, buatlah ragam kegiatan alternatif misalnya bimbingan belajar, permainan, diskusi santai, penyuluhan, dan lain-lain.
Lakukan juga pengayaan koleksi. Koleksi yang itu-itu saja tentu membosankan. Banyak cara untuk melakukan pengayaan seperti tukar-pinjam koleksi dengan perpustakaan lain, perpustakaan pemerintah, atau pribadi. Cara lain dengan penggalangan buku melalui pribadi, penerbit, atau sekolah. Bisa juga bekerja sama dengan LSM penggiat perpustakaan seperti LSM Kutubuku yang akan membantu dalam program PINJAM KOLEKSI hingga pendampingan (konsultan).
Gimana, mudahkan bikin perpustakaan komunitas? (Oleh Zazuli, Koordinator Harian LSM Kutubuku)







Comments (4)
rimba
January 30th, 2009 at 1:21 am
kebetulan kami sedang mencari buku-buku untuk perpustakaan kami yang kami tempatkan di musholla alfurqon. bisa ga ya mohon bantuan buku untuk anak-anak …..dan perpustakaan kami…terimakasih
Kutubuku
March 3rd, 2009 at 7:09 pm
sblumnya saya ucpkan trima kasih utk commentnya. bisa saja kami membntu. silahkan mengirim permohonan melalui email ke dampingan@kutubuku.info sekalian lmpirkan data sosial selengkapnya sprti siapa saja yg datang ke perpus baik usia, pekerjaan, dan pendidikannya, juga data lain sprti pendirian sjak kapan, pengurs siapa, koleksi sudah brpa, dsb.
trma kasih.
abdullah ibnu thalhah
September 9th, 2009 at 7:25 pm
alhamdulillah..saya mendapatkan info tentang web ini dari teman di jogja. trimakasih.
saya sedang merintis keberadaan perpustakaan untuk komunitas santri, siswa SD, SMP, SMU dan masyarakat umum di daerah Limpung Batang. namanya “Perpustakaan Umum KH. Ahmad Rifai”. Saya ambil dari nama pahlawan nasional KH. Ahmad Rifai dari desa Kalisalak, Limpung yang berjuang melawan Belanda melalui karya2 literernya yang cemerlang dan sampai saat ini masih dikaji oleh para pengikutnya.Bila berkenan, kami bermaksud memohon sumbangan buku2 untuk melengkapi koleksi perpustakaan nanti. semoga bermanfaat dan terimakasih.
salam
TatHahutepe-tool
May 16th, 2010 at 10:17 pm
awal yang baik
Leave a reply