Cindera Mata Indah dari Nepal
Oleh : Andry Friyadi
Judul: Leaving Microsoft to Change The World Penulis: John Wood Penerbit: Bentang Tahun: 2006 Tebal: 367 hal
Ketika kita bersedia mendengarkan hati nurani bicara, maka akan lahir kejutan-kejutan besar. Bahkan, dampaknya jauh melampaui bayangan, sampai kita sendiri terpana pada apa yang terjadi. Dan yang lebih penting, hati nurani itu bersih, jernih, dan menyejukkan. Dia menembus batas kemanusiaan, melebarkan sayap menjauhi ego diri dan hinggap di lubuk-lubuk hati orang lain.
Itulah kira-kira yang dialami John Wood, seorang mantan eksekutif di Microsoft. Setelah sembilan tahun bekerja di Microsoft, dengan pencapaian karier yang gemilang, Wood membanting setir menjadi perintis pengetahuan di dataran puncak Himalaya. Apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang dipikirkan seorang John Wood?
Dalam memoarnya, yang kemudian dibukukan dengan judul Leaving Microsoft to Change The World, Wood bercerita bagaimana hatinya bergetar hebat menyaksikan anak-anak yang hidup di dataran tinggi Nepal. Di ketinggian Himalaya itu ia seperti melihat dunia lain yang jauh berbeda dengan dunia kesehariannya. Wood mendapati anak-anak yang begitu bersemangat menapaki pegunungan untuk mencapai sekolah dengan kesederhanaan. Baju yang mereka kenakan kumal, kaki-kaki telanjang yang kotor dan mengeras, dan yang mengherankan lagi, tidak ada buku yang dipergunakan di dalam kelas. Oh maaf, maksudnya bukan kelas, tetapi bangunan sumpek yang alasnya tanah dan beratap seng yang memperkuat panggangan sinar matahari.
Tetapi Wood takjub, tatapan anak-anak itu cerah, tegas dan bersemangat. Sedikit pun tidak memperlihatkan rasa putus asa atau pesimis. Inilah yang menggugah akal sehatnya. Bagaimana mungkin tidak tergerak untuk membantu ketika bayangan masa kecilnya yang penuh dengan buku-buku cerita dihadapkan pada situasi prihatin seperti itu.
Mulailah Wood berpikir, merenung, dan menimbang. Banyak hal yang menjadi pertimbangannya; kehidupan yang mapan, penghasilan yang tinggi, calon isteri yang cantik, dan harapan orangtua. Tetapi dorongan nuraninya kuat dan mendesak hingga akalnya harus memutuskan, ia harus meninggalkan semua itu.
Wood membangun rencananya. Sebuah gagasan tentang ruang baca yang dinamainya Room to Read diwujudkan. Semua channel dan jejaring dimanfaatkan maksimal. Pikirannya kini melebar, tidak hanya menebar pengetahuan di Nepal saja, tetapi ke negara-negara Asia lainnya. Hasilnya, berdirilah 3600 perpustakaan di Asia buah kerja kerasnya.
Apapun yang kita pikirkan sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal” tentang hal ini, tidak berarti apa-apa buat Wood. Namun ada hal lain yang begitu menggelitik pikiran Wood. Jika setiap orang di dunia ini berpikiran sama untuk membangun pendidikan yang lebih baik, tentunya anak-anak akan memiliki masa depan yang indah dan menyenangkan. Apakah kita termasuk di dalamnya?**
Filed Under: FIGUR
Tags: aktivis literasi, membaca, memoar, pejuang perpustakaan, pendidikan, perpustakaan









Comments
No Comments
Leave a reply