BIKIN
Mencerdaskan anak bangsa banyak caranya. Cara yang paling populer tentu melalui pendidikan di sekolah. Seperti kita tahu, mendirikan sekolah membutuhkan biaya besar, persiapan, dan prosedur yang rumit. Tidak sembarang orang bisa melakukannya. Namun, itu bukan satu-satunya cara untuk mengasah wawasan anak bangsa. Selalu ada cara lain. Kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Ah, jauh-jauh ke Roma. Banyak jalan menuju Jakarta. Boleh, kan?
Cara paling populer untuk mengasah wawasan adalah dengan membaca. Yah, membaca. Apa saja. Yang penting membaca. Tapi, dari mana bukunya mengingat harga buku semakin mahal.
Di sinilah peran penting perpustakaan komunitas atau perpustakaan swadaya masyarakat yaitu perpustakaan atau taman bacaan yang didirikan oleh, dari, dan untuk masyarakat.
APA
Perpustakaan komunitas adalah tempat peminjaman buku, baik dengan biaya maupun tanpa biaya, dengan mungusung misi sosial khusus di bidang peningkatan minat baca masyarakat. Menurut kaca pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, Perpustakaan Komunitas dikenal dengan istilah Taman Bacaan dan berada dalam pembinaan Pendidikan Luar Sekolah.
MENGAPA
Karena mendirikan perpustakaan komunitas atau taman bacaan lebih mudah daripada mendirikan sekolah. Cukup menyediakan bahan bacaan yang menarik. Lakukan sosialisasi dan persuasi ke masyarakat. Yakinlah, mereka akan segera membaca. Tidak perlu ada ijin pendirian. Juga prosedur birokrasi yang menjemukan. Perpustakaan komunitas kapanpun bisa dibangun asal ada motivasi yang kuat dan tulus.
DIMANA
Di manapun kita bisa mendirikan perpustakaan komunitas. Di garasi, teras, balai RT/RW, atau bekas gudang. Jika tidak ada tempat khusus, gelar saja tikar. Buatlah perpustakaan lesehan.
SIAPA
Tidak ada batasan siapa yang boleh mendirikan perpustakaan komunitas. Siapapun boleh mendirikannya mulai dari individu, lembaga sosial, atau perusahaan komersil sebagai misi sosial. Yang terpenting bukan siapa, tetapi mau apa?
BAGAIMANA
Mulailah di lingkungan terdekatmu. Kumpulkan koleksi bacaanmu, berapapun jumlahnya. Pilihlah tempat untuk menjadi pusat kegiatan perpustakaan komunitas. Tempat itu bisa berupa masjid/musholla, balai desa, teras rumah, atau sekedar lesehan. Setelah buku terkumpul, lakukan sosialisasi ke masyarakat sekitar agar kehadiran perpustakaan komunitas ini diketahui khalayak luas. Sebagai langkah awal, buku dalam jumlah puluhan sudah cukup.
Agar tidak membosankan, buatlah ragam kegiatan alternatif misalnya bimbingan belajar, permainan, diskusi santai, penyuluhan, dan lain-lain.
Lakukan juga pengayaan koleksi. Koleksi yang itu-itu saja tentu membosankan. Banyak cara untuk melakukan pengayaan seperti tukar-pinjam koleksi dengan perpustakaan lain, perpustakaan pemerintah, atau pribadi. Cara lain dengan penggalangan buku melalui pribadi, penerbit, atau sekolah. Bisa juga bekerja sama dengan LSM penggiat perpustakaan seperti LSM Kutubuku yang akan membantu dalam program PINJAM KOLEKSI hingga pendampingan (konsultan).
Gimana, mudahkan bikin perpustakaan komunitas? (Oleh Zazuli, Koordinator Harian LSM Kutubuku)








Comments
No Comments
Leave a reply